Siapa yang bilang bersyukur itu gampang alias mudah?
Bagi sebagian orang, bersyukur emang mudah. Tapi itu kan cuman dimulut. Lain di mulut, lain di hati. Lain teori, lain pula prakteknya.
Disini sy bukannya mau ngejelek-jelekin orang. Ngapain men-cap orang itu bersalah? Nah, kita sendiri gimana?
Emg sich, ini kejadian nyata. Walaupun bukan sy sendiri yang mengalaminya. Tapi ini bisa dijadikan pelajaran.
Sy tidak tahu, dan tidak semua orang di kantor mengetahui apa yang sedang dipikirkan oleh salah satu rekan kerja sy ini. Tiap hari dia datang. Tapi, jadwal pulangnya berbeda dari karyawan-karyawan lainnya yang sudah dijadwalkan pulang jam setengah lima. Yang satu ini agak berbeda.
Dia termasuk karyawan baru. Bahkan, dia lebih beruntung dari sy, dia bisa kerja di perusahan yang sama dengan sy tanpa tes dan tanpa memasukkan surat lamaran terlebih dahulu. Hal ini sangat berbanding terbalik dengan sy. Dan yang lebih membuat sy iri dengannya adalah hari sabtu dia diwisuda, hari seninnya dia sudah berganti status sebagai seorang karyawan. Dia tidak perlu bersusah-susah mencari pekerjaan seperti saya, hari ini diwisuda, besoknya langsung berubah status sebagai pengangguran. *hehehe... malang nian nasib q!*
Kalau dilihat-lihat, menurut sy dia termasuk salah seorang yang susah untuk bersyukur. Kenapa? Coba dibayangkan, dia bisa dengan mudahnya masuk kerja (di perusahaan tempat sy bekerja) karena orang tuanya memiliki hubungan (erat) dengan direktur tempat sy bekerja. Tapi, apa yang dia perbuat. Dia datang dan pergi ke kantor seenaknya. Kata bos sy tadi, dia seperti jelangkung. Datang tak di undang, pergi tak di antar. hehe... ^_^
Jika disuruh kelapangan untuk melihat pekerjaan (bukan dia yang akan melakukan pekerjaan itu, tapi hanya bertugas untuk mengawasi saja!), ada saja alasannya. Salah satu alasan yang sy tau, karena lokasi pekerjaan dengan rumahnya jauh. Selain itu, dia juga tidak bisa pulang malam. Lha! That's reason why??? Aneh bin Ajaib!! Benar-benar seperti jelangkung!
Terus klu gitu, dia mau kerja gimana?? Mau kerja kayak apa? Langsung mau jadi bos? What?? Masa baru kerja beberapa bulan, udah mau jadi bos? Disuruh ini gak mau, disuruh kerja itu gak mau. Maunya gimana? Datang ke kantor telat, pulang ngantornya malah cepat. Orang-orang masih sibuk kerja, dianya setelah istirahat dan makan siang, malah menghilang dari kantor. Benar-benar kayak jelangkung.
Jika dibandingkan dengan sy, dia seharusnya lebih bersyukur, karena dia tidak mengalami status pengangguran selepas tamat dari kuliahnya. Dia seharusnya lebih bisa mendapatkan pengalaman yang berharga dari pekerjaan pertamanya ini. Siapa tau, dengan kegigihan, kerja keras dan pengalaman-pengalaman yang dia peroleh di perusahaan ini, bisa mengantarkannya ke tempat pekerjaan/perusahaan yang lebih bagus dari ini.
Sy jadi ingat dengan kisah-kisah menuju sukses yang selalu sy dengar dari bos sy, jika pekerjaan sedang tidak banyak. Sy jadi semakin lebih terinspirasi dengan cerita-cerita, nasehat dan wejangan berharga dari beliau. Sy tidak tau, kemana takdir akan membawa suatu saat nanti. Ke tempat yang lebih bagus dari ini, atau sebaliknya. Yang jelas, sy harus berusaha untuk mensyukuri apa yang sy dapat hari ini, walaupun itu kecil, seadanya, besar, atau berharga.
Karena, jika kita mensyukuri nikmat yang telah diberikan oleh Allah (walaupun itu kecil) dengan ikhlas, Insya Allah, Allah SWT akan memberikannya lebih dari yang kita duga, bahkan tak terhingga.
Maka, belajarlah untuk bersyukur!
Wslm.
Bagi sebagian orang, bersyukur emang mudah. Tapi itu kan cuman dimulut. Lain di mulut, lain di hati. Lain teori, lain pula prakteknya.
Disini sy bukannya mau ngejelek-jelekin orang. Ngapain men-cap orang itu bersalah? Nah, kita sendiri gimana?
Emg sich, ini kejadian nyata. Walaupun bukan sy sendiri yang mengalaminya. Tapi ini bisa dijadikan pelajaran.
Sy tidak tahu, dan tidak semua orang di kantor mengetahui apa yang sedang dipikirkan oleh salah satu rekan kerja sy ini. Tiap hari dia datang. Tapi, jadwal pulangnya berbeda dari karyawan-karyawan lainnya yang sudah dijadwalkan pulang jam setengah lima. Yang satu ini agak berbeda.
Dia termasuk karyawan baru. Bahkan, dia lebih beruntung dari sy, dia bisa kerja di perusahan yang sama dengan sy tanpa tes dan tanpa memasukkan surat lamaran terlebih dahulu. Hal ini sangat berbanding terbalik dengan sy. Dan yang lebih membuat sy iri dengannya adalah hari sabtu dia diwisuda, hari seninnya dia sudah berganti status sebagai seorang karyawan. Dia tidak perlu bersusah-susah mencari pekerjaan seperti saya, hari ini diwisuda, besoknya langsung berubah status sebagai pengangguran. *hehehe... malang nian nasib q!*
Kalau dilihat-lihat, menurut sy dia termasuk salah seorang yang susah untuk bersyukur. Kenapa? Coba dibayangkan, dia bisa dengan mudahnya masuk kerja (di perusahaan tempat sy bekerja) karena orang tuanya memiliki hubungan (erat) dengan direktur tempat sy bekerja. Tapi, apa yang dia perbuat. Dia datang dan pergi ke kantor seenaknya. Kata bos sy tadi, dia seperti jelangkung. Datang tak di undang, pergi tak di antar. hehe... ^_^
Jika disuruh kelapangan untuk melihat pekerjaan (bukan dia yang akan melakukan pekerjaan itu, tapi hanya bertugas untuk mengawasi saja!), ada saja alasannya. Salah satu alasan yang sy tau, karena lokasi pekerjaan dengan rumahnya jauh. Selain itu, dia juga tidak bisa pulang malam. Lha! That's reason why??? Aneh bin Ajaib!! Benar-benar seperti jelangkung!
Terus klu gitu, dia mau kerja gimana?? Mau kerja kayak apa? Langsung mau jadi bos? What?? Masa baru kerja beberapa bulan, udah mau jadi bos? Disuruh ini gak mau, disuruh kerja itu gak mau. Maunya gimana? Datang ke kantor telat, pulang ngantornya malah cepat. Orang-orang masih sibuk kerja, dianya setelah istirahat dan makan siang, malah menghilang dari kantor. Benar-benar kayak jelangkung.
Jika dibandingkan dengan sy, dia seharusnya lebih bersyukur, karena dia tidak mengalami status pengangguran selepas tamat dari kuliahnya. Dia seharusnya lebih bisa mendapatkan pengalaman yang berharga dari pekerjaan pertamanya ini. Siapa tau, dengan kegigihan, kerja keras dan pengalaman-pengalaman yang dia peroleh di perusahaan ini, bisa mengantarkannya ke tempat pekerjaan/perusahaan yang lebih bagus dari ini.
Sy jadi ingat dengan kisah-kisah menuju sukses yang selalu sy dengar dari bos sy, jika pekerjaan sedang tidak banyak. Sy jadi semakin lebih terinspirasi dengan cerita-cerita, nasehat dan wejangan berharga dari beliau. Sy tidak tau, kemana takdir akan membawa suatu saat nanti. Ke tempat yang lebih bagus dari ini, atau sebaliknya. Yang jelas, sy harus berusaha untuk mensyukuri apa yang sy dapat hari ini, walaupun itu kecil, seadanya, besar, atau berharga.
Karena, jika kita mensyukuri nikmat yang telah diberikan oleh Allah (walaupun itu kecil) dengan ikhlas, Insya Allah, Allah SWT akan memberikannya lebih dari yang kita duga, bahkan tak terhingga.
Maka, belajarlah untuk bersyukur!
Wslm.
