‘ditakdirkan untuk sendiri’

Ditakdrikan untuk sendiri. Seperti itulah takdir hidup Kak Laisa yang diceritakan oleh si pengarang dalam novelnya yang berjudul Bidadari Bidadari Surga. Novel yang termasuk salah satu bacaan favorit ku itu, akhirnya baru selesai aku baca pagi kemaren, setelah satu minggu berturut-turut aku baca. *wuih!! lama juga yach, ngebaca nya!!* hu'uh! Klu novel emg lama, klu komik cukup satu jam. ^_^Kalau diterawang, fisik Kak Laisa sepertinya hampir sama dengan ku. Jelek, hitam, dan pesek. Kelebihan ku, ditambah dengan bekas jerawat yang hampir menyelimuti sebagian besar wajah ku dan komedo yang mulai berhamburan dihidung bunder ku. Hehehe.... Tapi disamping itu, aku tidak bisa menyaingi Kak Laisa yang memiliki sifat rasa syukur yang sangat bagus kepada Sang Pencipta. Tidak pernah mengeluh dengan keadaannya. Tidak perlu menyuruhnya 2 kali untuk melakukan sesuatu yang disuruh olek Mamak. Taat ibadah dan sering melakukan sholat malam. Disiplin yang tinggi dan suka bekerja keras. Yang tak kalah penting adalah selalu menepati janjinya kepada adik-adik mereka. Kesimpulannya, bagi ku Kak Laisa adalah kakak yang sempurna, walaupun tak sesempurna fisiknya.

Walau begitu, aku sangat berharap dan berdoa kepada ALLAH SWT semoga takdir hidup ku tidak seperti Kak Laisa. Meski selama 21 hidup ku aku tidak pernah pacaran, tak apa bagi ku. Tapi aku ingin sekali menjadi seorang istri yang baik dan sholehah. Merasakan bagaimana rasanya hamil, melahirkan, menyusui, mengasuh anak dan suami, mengajarkan dan mendidik anak kepada yang baik, menjadi Ibu bagi anak-anak ku, dan merasakan apa yang dirasakan oleh Mama ku saat ini. Aku sangat berharap suatu saat nanti ALLAH memberikan jodoh yang terbaik untuk ku. *semoga!* Amin.

Mengharukan. Pada bab terakhir novel Bidadari Bidadari Surga, aku sempat menitikkan air mata. Aku terharu pada kalimat: “Kak Laisa tersenyum untuk selamanya. Kembali.”

Ya Allah, bagi ku sosok Kak Laisa adalah wanita yang benar-benar tegar dalam menjalani kehidupannya. Dia pernah diejek oleh adiknya yang nakal, ditolak secara kasar saat dia di jodohkan oleh Wak Burhan dan adiknya Dalimunte, pernah merasakan sakit hati, diejek oleh petugas sekolah Yashinta karena antara Kak Laisa dan Yashinta tidak mirip. Namun itu semua ditanggapi dengan lapang dada, ikhlas dan sabar.

Satu hal yang paling membuat ku takjub melihat tokoh Kak Laisa adalah, dia tidak pernah mengeluh terhadap sesuatu. Baik sesuatu itu adalah sesuatu yang menjelekkannya. Dibandingkan dengan ku, meski memiliki kesamaan fisik yg hampir sama dengan Kak Laisa, jujur, terkadang aku juga suka mengeluh. Baik itu kepada Allah maupun kepada orang tua ku.

Dari novel itu, aku banyak mendapat pelajaran. Mulai dari kerja keras Kak Laisa yang selalu diajarkan kepada adik-adiknya, hingga melakukan berbagai macam kesibukan-kesibukan untuk menghilangkan rasa sakit hati, kesepian dan kesedihan yang dilanda Kak Laisa. Subhanallah, sungguh suatu pelajaran yang sangat berarti bagi ku. Apalagi dengan kondisi ku saat ini.

Selain itu, aku juga menandai beberapa kalimat yang menggugah hati ku dalam novel Bidadari Bidadari Surga dan membuat aku berpikir betapa pentingnya rasa syukur, tidak pernah mengeluh dan kesabaran itu. Diantaranya pada:

Halaman 233 & 234 (pada saat awal Kak Laisa mulai dijodohkan oleh adik pertamanya):
“Tapi maksud ku, setidaknya cantik adalah menarik hati” Dalimunte sudah terlanjur membanting pintu mobil. Dia tidak membenci kenalannya tersebut secara personal. Tapi Dalimunte lebih membenci kenyataan bahwa: terkadang betapa munafiknya manusia dalam urusan ini. Lihatlah, kenapa pula temannya tersebut mesti berpura-pura ada jadwal acara mendadak, ceramah dimanalah hari ini. Dalimunte membenci ukuran-ukuran relatif yang ada di kepala orang ketika mencari jodoh. Sungguh jika ada yang ingin menilai secara objektif, Kak Laisa masuk tiga dari empat kriteria utama yang disebutkan Nabi dalam memilih jodoh.
Jelas Kak Laisa salehah. Saleh dalam hubungan dengan Allah, juga saleh dalam hubungan dengan manusia. Kak Laisa selalu pandai mensyukuri nikmat Allah dalam bentuk yang lengkap. Ritus ibadah yang baik dan ikhlas, juga kesalehan sosial memperbaiki kehidupan lembah.
Dari sisi materi? Jelas Kak Laisa lebih baik dari gadis lain. Perkebunan strawberry Kak Laisa membentang nyaris dua ribu hektar. Meski Kak Laisa selalu bilang itu perkebunan Mamak, semua orang tahu, semuanya berkat kerja keras Kak Laisa.
Dan dari sisi keturunan, Kak Laisa memang bukan turunan raja atau bangsawan ternama, tapi keluarga mereka terhormat, pekerja keras, tidak pernah meminta-minta, berdusta, atau melakukan hal buruk lainnya. Sejak dulu Babak mengajarkan tentang harga diri keluarga, mengajarkan tentang menjaga nama baik keluarga lebih penting dibandingkan soal kalian keturunan siapa. Menjadi keluarga yang jujur mesti keadaan sulit. Berbuat baik dengan tetangga sekitar, dan sebagainya.
Jadi kenapa harus mempersoalkan kecantikan? Bukankah itu hanya ada diurutan ke empat?
“Keluarga yang baik hanya dapat terjadi ketika suami merasa senang menatap istrinya, Dali. Merasa tenteram –“ Kak Laisa berkata pelan, menatap gumpalan awan tipis yang menutupi bintang-gemintang dan purnama.
Dalimunte hanya diam. Seperti biasa, mereka menghabiskan sepertiga malam terakhir dengan berdiri dilereng perkebunan strawberry. Kak Laisa tidak banyak berkomentar atas kejadian semalam dan tadi pagi. Seperti biasa, menganggapnya kejadian lazim berikut. Bukankah selama ini perjodohan yang dilakukan Wak Burhan bernasib sama. Yang dijodohkan mundur teratur setelah melihatnya (satu-dua malah kasar segera pergi dari rumah. Dalimunte saja yang terlalu naif berharap banyak atas kenalannya tersebut, tidak proporsional, tertipu tampilan mulut. Kesalehan mulut.
“Kau tahu, jika suami merasa tersiksa melihat wajah dan fisik istrinya, dan juga sebaliknya, mereka tidak akan pernah menjadi keluarga yang baik. Bukankah kau juga tahu kisah tentang sahabat Nabi, yang meminta bercerai karena fisik dan wajah pasangannya tidak menenteramkan hatinya –“ Kak Laisa tetap berkata ringan.

Halaman 242:
Saat itu tidak ada yang tahu, kalau bertahun-tahun terakhir Yashinta amat membenci kelakuan teman lelakinya yang sibuk mencari perhatian. Apakah mereka akan tetap sibuk mencari perhatian jika wajah dan fisiknya seperti Kak Laisa? Omong-kosong. Mereka tidak benar-benar menyukai dirinya. Menyukai apa-adanya. Mereka hanya menyukai tampilan fisik dan wajah. Seperti seekor rubah yang tertarik pasangannya karena bau tubuhnya. Maka hewan-lah sejatinya perangai mereka.

Halaman 288 (doa yang paling disukai Kak Laisa):
....Dengan muka masih pucat. Dengan tubuh masih lemah. Menggunakan sisa-sisa tenaganya. Berseru lirih disenyapnya mobil membelah jalanan menuju perkebunan, “Ya Allah, aku mohon, meski hamba begitu jauh dari wanita-wanita mulia pilihanmu, hamba mohon kokohkanlah kaki Laisa seperti kaki Bunda Hajra (Siti Hajar) saat berlarian dari Safa-Marwa.... Kuatkanlah kaki Laisa seperi kaki Bunda Hajra demi anaknya Ismail.... Mereka tidak boleh melihat aku sakit....” Satu titik air-mata mengalir di pipinya. Itu juga doa Laisa ketika menerobos hujan badai saat Yashinta sakit, ke kampung atas, ketika kakinya bengkak menghantam tunggul kayu. Ketika sendi mata kakinya bergeser. Itu juga doanya saat di Gunung Kendeng. Itulah doa yang paling disukai Laisa. Doa-doa itu mengukir langit.

Halaman 290 & 291:
Yang menceritakan bahwa Kak Laisa kembali dijodohkan oleh adiknya. Tapi hasilnya sama saja. Perjodohan yang gagal lagi.
Dengan berita kanker paru-paru stadium satu yang ia tutup rapat-rapat, kecuali dengan Mamak, maka benar-benar tidak ada yang tahu apa yang selalu Laisa pikirkan saat menatap langit penghujung malam. Menatap bulan dan gemintang di Lembah Lahambay. Apakah memang sesederhana yang selalu ia sampaikan kepada Dalimunte: Ia sudah terbiasa dengan kesendiriannya.
Kemudian pada saat seorang warga baru dilembahnya mulai tertarik pada Laisa, namun pada akhirnya ternyata warga baru tersebut adalah buronan polisi. Ia hanya menginginkan harta Laisa. Ia seperti sudah mengubur dalam-dalam keinginan untuk menikah. Melupakannya. Kak Laisa seolah sudah bersiap menerima kalau ia memang ditakdirkan hidup sendirian selamanya. Mungkin saja Kak Laisa sudah benar-benar terbiasa.

Halaman 296:
Lembut jemari Yashinta mengusap wajah Kak Laisa. Rambut gimbalnya. Wajah dengan kulit hitam. Hidung pesek. Mulut Kak Laisa yang sedikit terbuka, memperlihatkan gigi-gigi besar, tidak proporsional. Yashinta menelan ludah. Membandingkan wajah itu dengan wajahnya melalui cermin peraut pensil. Kak Laisa sungguh beda.... Tapi bagaimana mungkin Kak Laisa bukan kakaknya?
Apapun jawabannya, Kak Laisa tetap menjadi kakaknya.

Halaman 337 & 338:
Pagi itu, saat kabut masih mengambang diatas hamparan merah ranum buah strawberry, Mamak bercerita tentang: bidadari-bidadari surga. Melanjutkan cerita Laisa ke anak-anak sebulan yang lalu. Andaikata disini ada Yashinta, ia akan senang sekali, itu cerita favoritnya waktu kecil.
“Dan sungguh di surga ada bidadari-bidadari bermata jeli (Al Waqiah: 22). Pelupuk mata bidadari-bidadari itu selalu berkedip-kedip bagaikan sayap burung indah. Mereka baik lagi jelita. (Ar Rahman: 70)."
Andaikata ada seorang wanita penghuni surga mengintip ke bumi, niscaya dia menerangi ruang antara bumi dan langit. Dan niscaya aromanya memenuhi ruangan antara keduanya. Dan sesungguhnya kerudung diatas kepalanya lebih baik daripada dunia seisinya (Hadits Al Bukhari).
Suara Mamak berkata lembut terngiang ditelinganya: bidadari-bidadari surga, seolah-olah adalah telur yang tersimpan dengan baik (Ash-Shaffat: 49)....
Kak Laisa jatuh tertidur, dengan sungging senyum dan satu kalimat doa: Ya Allah, jadikan Lais salah satu bidadari-bidadari surga.... (setelah membaca bagian yg ini, aku juga ingin menjadi bidadari-bidadari surga. tapi itu pasti susah sekali, karena sifat ku tidak seperti Kak Laisa. T_T)

Halaman 344:
....Urusan mereka (Yashinta dan Goughsky) sama seperti Dalimunte dan Chie Hui, atau Ikanuri-Wibisana dengan Wulan-Jasmine. Mereka tidak saling mengungkapkan perasaan secara langsung. Tapi bukankah perasaan itu tidak selalu harus dikatakan? Cara menatap, cara bertutur sungguh cermin dari isi hati. Lagipula sama seperti kakak-kakaknya, Yashinta tidak mengenal proses pacaran. Mereka tahu batas-batasnya. (same with me! ^_^)

Halaman 348:
“Tidak ada yang tahu kapan Kakak akan menikah, Yash. Tidak ada yang tahu.... Bahkan mungkin Kakak ditakdirkan tidak akan pernah menikah.... Kau harusnya tahu persis itu.” Suara Kak Laisa serak. Menatap wajah adiknya lamat-lamat. Adiknya yang sekarang mulai terisak. (saat membaca bagian yg ini, aku juga ikutan terharu! T_T)
Membuat Kak Laisa tertunduk dalam. Menggigit bibir, pelan mendesah ke langit-langit, “Ya Allah, setelah Dalimunte, Ikanuri dan Wibisana, apa aku harus selalu menanggung penjelasan ini kepada mereka.... Ya Allah, apa aku harus selalu menjadi penghalang pernikahan adik-adikku.... Lais sungguh ikhlas dengan semua keterbatasan ini, Ya Allah. Sungguh.... Biarlah seluruh bukit dan seisinya menjadi saksi, Lais sungguh ikhlas dengan segala takdirMu.... Tapi setiap kali harus mengalami ini, menjadi penghalang kebahagiaan mereka....” Suara Kak Laisa menghilang diujugnya. Getir.
Dan Yashinta seketika menangis tertahan. Memeluk Kak Laisa erat-erat. Untuk pertama kalinya, kalimat seperti itu meluncur dari mulut Kak Laisa. Kalimat penjelasan. Sepenuh hatinya. Semua ini memang benar-benar sederhana baginya. Kesendirian. Rasa sepi. Kerinduan. Semua itu benar-benar sederhana baginya. Ia merasa cukup dengan segalanya.... Lihatlah, malam itu ia justru hanya mengeluh telah menjadi penghalang jalan kebaikan adik-adiknya.... (Kak Laisa yang tak pernah mengeluh akan nasib dan takdir hidupnya, hanya sekali mengeluh demi masalah tersebut. Subhanallah!)

*koq diketik semuanya?* karena novel ini aku pinjam, kalau dikembalikan mana bisa baca lagi! Hehehe…

Sungguh besar sekali pengorbanan seorang Kak Laisa terhadap adik-adiknya. Ditambah lagi dia bukanlah kakak kandung mereka, tapi Kak Laisa tidak pernah mempedulikan itu. Yang penting baginya, adik-adiknya harus bisa lebih dari kakaknya. Subhanallah.

Aku, walapun tidak memiliki adik. Contoh teladan dari Kak Laisa adalah yang terbaik dan harus aku pahami (ikuti). Terkadang aku juga suka benci, muak, dan jarang bersyukur atas hidup ku ini. Dan Alhamdulillah, setelah membaca novel ini, Insya Allah aku akan mengubah segalanya. Mengubah pola pikir ku. Belajar untuk lebih besyukur kepada Sang Pencipta atas segalanya dan atas nikmat hidup ku yg diberikan olehNya. Belajar menjadi seorang wanita shaleh. Belajar untuk ikhlas dan menerima apa adanya. Belajar untuk menjadi orang yang tidak cepat emosi (ini yg lumayan susah!). Belajar untuk menjadi seorang wanita yang penyabar, penyayang, pemaaf, tidak pendendam. Belajar untuk tidak terus-terusan mengeluh (ini juga lumayan susah!). Dan belajar untuk menjadi seperti Kak Laisa yang suka bekerja keras dan berdoa.

Namun, sekarang ada suatu perubahan dalam diri ku. Alhamdulillah, belakangan ini aku sudah bisa mengontrol rasa amarah ku. Jadi, kalau ada yang menyakiti atau mendzalimi ku, Insya Allah aku tak akan marah atau dendam padanya. Dengan tulus ikhlas, Insya Allah aku akan memaafkan kesalahannya. Karena aku selalu ingat, seseorang pernah berpesan pada ku: “gak semua org bs memaafkan klu mereka sdh disakiti, jadi klu qta bs memaafkan org apbl qta yg disakiti, lbh baik qta yg disakiti, daripada qta nyakitin org tp dia tidak mau memaafkan qta, sama aja qta sdh menjerumuskan org itu utk memperbanyak dosanya.” *good statement! dpt dr syapah?* mo tau ajah! R-H-S alias RAHASIA!

Sungguh, novel yang bagus. Novel yang dapat memberikan mitovasi dan semangat kepada pembacanya. (termasuk aku! ^_^) Dan yang lebih penting, novel ini betul-betul memberikan pelajaran yang sangat berharga bagi para pembacanya.

Aku juga sangat berharap, ALLAH memberikan pilihan terbaikNya untuk hidup ku didunia dan diakhirat kelak, aku bisa menjadi salah satu bidadari-bidadari surga pilihan Allah. Pilihan terbaik, yang bisa mengerti aku dan menerima diri ku apa adanya. *semoga!* Amin Ya Rabbil’alamin....

Sebentar!

Aku sempat berpikir, berarti yang menjadi bidadari-bidadari disurga kelak apakah wanita-wanita yang diatas dunia ini memiliki tampilan fisik yang tidak menarik, namun dia adalah wanita sholehah dan pekerja keras? Maksudnya begini, karena Allah tidak ingin kekasihnya (bidadari-bidadari surga) diambil oleh lelaki didunia ini, makanya dia mengurangi wanita tersebut dari tampilan fisiknya. Jadi Allah tidak perlu cemburu, dan diakhirat nanti, wanita-wanita itu tetap suci dan Allah membalasnya dengan surga. Maka, jadilah wanita-wanita yang memiliki kekurangan pada tampilan fisik, tidak laku didunia, namun menjadi bidadari-bidadari surga di akhirat kelak! Apakah begitu?

Maafkan aku Ya ALLAH, itu hanya pikiran yang keluar dari otak ku yang masih kerdil ini. Otak yang tidak memiliki pengetahuan seperti Engkau Ya Allah. Sekali lagi, maafkan aku!


Wslm.

“sekolah dimano?...”

Hari minggu tanggal 7 kemaren adalah hari yang kesekian kalinya aku di kira anak sekolah oleh seseorang. Lucu! Tampang amit-amit kayak dinamit begini, koq masih dibilang anak sekolah?

Minggu itu adalah hari tes kemampuan Bahasa Jepang yang bekerja sama antara Pemerintah Jepang dengan Univ. Bung Hatta Padang – Indonesia. Bisa dibilang, ujian ini layaknya tes TOEFL pada Bahasa Inggris. Kota Padang yang diguyur hujan sejak malam sebelum ujian dilaksanakan pada pagi harinya, membuat ku tak bersemangat untuk mengikuti ujian. Ditambah lagi, aku memang benar2 ga ada persiapan buat ujian. Makanya ga semangat. Mwales!!...

Akibatnya, baru mulai ujian, sindrom ngantuk ku datang lagi. Pantes aja aku dibilang anak yang aneh sama uni ku! Jarang-jarang ada orang yang ngantuk pas ujian sedang berlangsung. Sedangkan aku, malah pengen tidur ketika ujian sedang berlangsung. Ditambah lagi dengan cuaca dingin yang pastinya akan membawa ku ke alam mimpi yang bisa menghangatkan ku. *ce’ileeeee... bahasa nyee!!!... whuehehehe…*

Tepat jam 9, ujian dimulai. 25 menit setelah itu, ujian selesai dan kami disuruh keluar kelas oleh panitia untuk istirahat. Hal ini lebih aneh dari pada diri ku yang pagi sebelum berangkat dikatakan anak yang aneh oleh uni ku. Anehnya, hanya untuk menunggu ujian yang berikutnya, kita mesti disuruh istirahat selama 25 menit dan menunggu untuk ujian yang berikutnya. Padahal, waktu ujian dengan istirahat sama-sama 25 menit. Kenapa habis selesai ujian pertama ga langsung disambung dengan ujian yang kedua aja? Heran saiah!

Pas jam istirahat yang pertama ini, sebenarnya aku malas keluar kelas. Tapi rasanya ga enak, masa semua orang keluar kelas, cuman aku aja yang ga keluar, takutnya nanti aku ditanya sama panitia “kenapa dek?”
Eh, pas istirahat ke dua aku coba diam dikelas buat mau tidur, emg ditanya beneran kayak gt sm panitia. hehehe… mau jawab apa? masa aku mesti bilang, “saya ngantuk bngt Pak! dingin, pengen tidur!...”
Namun karena merasa ga enak, akhirnya jam istirahat yang kedua aku keluar juga. Untuk menghilangkan kantuk sambil menunggu untuk ujian yang ketiga, penyakit iseng ku bangkit dengan cara me-miscall uni mega. *hehehe…*

Pada saat aku sedang duduk sambil menunggu waktu ujian yang kedua, seorang cewek yang duduk disebelah ku, bertanya pada ku, “sekolah dimano?” Mendengar itu, aku sedikit tertawa dalam hati. Sebenarnya mau berkata jujur, tapi krn aku masih merasa ngantuk, aku jawab seadanya aja. “Udah tamat.” Jawab ku, singkat. Cewek yang badannya hampir sama dengan ku itu, cuman manggut2 aja.

Karena waktu ujian yang kedua segera dimulai, si cewek itu lebih dulu berlalu meninggalkan kursi dari pada aku. Seperginya, aku malah berkata dalam hati ku. “tampang amit-amit kayak dinamit gni, masih dikira anak sekolahan?? hehehe… ternyata wajah ku masih babyface juga yach!! hihihi…”

Entah aku mesti sedih atau senang, sejak dulu jarang ada yang mengira aku sudah anak kuliahan atau udh tamat kul. Pas lebaran kemaren aja, teman papa ku mengira bahwa aku masih anak sekolahan. Padahal sejak awal juli lalu, aku sudah resmi menyandang gelar SH (Sarjana Hukum) dari alumni Fakultas Hukum Univ. Andalas Prog. Non Reguler. Pernyataan itu langsung diluruskan oleh Papa ku, dan aku cuman bs tertawa mendengarnya. Sekitar beberapa tahun yang lalu, sepupu dari kakak ipar ku, juga menganggap bahwa aku masih anak SMA, dengan menanyakan, aku SMA kelas berapa? Padahal, saat itu aku sudah kuliah dan sudah memasuki tahun 3.

Hehehe… ternyata walaupun wajah amit-amit kayak dinamit alias bnyk-nya bekas jerawat yang tewas dipermukaan kulit wajah ku, aku masih dikira anak sekolah oleh orang2 diluar sana (khususnya yang baru mengenal/melihat ku secara langsung), walaupun ada juga sebagian kecil orang-orang yang menganggap ku sudah ibuk-ibuk, bahkan ada yang sempat memanggil ku “ibuk” Uh! Sedihnya!! Serasa diri sudah tua amat!! *hehehe…*


Wslm.

Pengalaman Pertama ku Tes CPNSD Tingkat Pemda Se-Sumbar

Sebenarnya catatan ini sudah harus diposting sehari stlh kjdn-nya. Namun berhubung krn ada suatu kendala pd diri ku, jadi baru kali ini ada kesempatan posting catatan ini. ^_^

Klu gt, aku langsung cerita aja yach!

Minggu tgl 30 November 208 kemaren adalah pengalaman pertama ku mengikuti tes CPNSD yang diselenggarakan oleh Pemda Sumbar. Lokasi tes dan wilayah yang aku lamar waktu itu adalah Kabupaten Dharmasraya yang letaknya 150 km lebih dari kota Padang. Tempatnya, hampir dekat dengan perbatasan antara prov. Sumbar dan Jambi.

Tujuan postingan ku kali ini adalah untuk menyatakan perasaan yang aku rasakan setelah mengikuti tes tersebut adalah: M E N Y E S A L !

*Kenapa???*

Awalnya, aku membayangkan, jika aku mengikuti tes disana, yang daerahnya lumayan cukup jauh dari kota Padang, pasti tidak akan terlalu banyak saingan. Selain itu, formasi yang diminta juga cukup lumayan banyak yaitu 5 orang untuk formasi analis hukum, jika dibandingkan dengan daerah-daerah lainnya, yang rata-rata hanya menyediakan 1 orang untuk formasi dibidang hukum.

Tapi apa mau dikata. Menurut pepatah lama, nasi sudah jadi bubur. Yang lalu biarlah berlalu dan tak perlu disesalkan lagi. Jika masih menyesalkan yang telah terjadi, takutnya kita depresi dan stres sendiri karena memikirkan itu-itu m’lulu.

Saat catatan ini diposting, aku sudah tidak merasakan penyesalan itu lagi. Lagian, kalau di flashback kembali, perjuangan ku untuk mengikuti tes tersebut, benar-benar bikin aku terkesan dan terharu. *cieee…* Dibawah ini sekilas tentang kegiatan pemotretan yang ku lakukan saat di Kab. Dharmasraya:



Hanya gambar2 itu saja yang tertera di kamera hp ku. Soalnya waktu itu, battery hp ku sudah mulai habis. Mau nge-charge, chargernya malah ketinggalan! Jadi, mau gmn lagi!

Sehari sebelum mengikuti tes di Kab. Dharmasraya, aku juga mengikuti tes CPNS di BPN (Badan Pertanahan Nasional). Pulang dari sana sebenarnya kondisi ku lagi ga fit. Maklum, pagi harinya tiba-tiba saja aku terserang flu dan kondisi badan yang kurang enak. Tapi demi itu semua, ku kuatkan juga fisik ku untuk mencapai cita-cita dan harapan ku. Flu sedikit, gpplah!! ^_^

Sebagaimana yang tercantum dalam jadwal bahwa tes CPNS BPN selesai jam 10.30 WIB, namun sekitar 10 menit sebelum itu aku sudah keluar. Rasa sakit dihidung ku gara2 flu rasanya sudah tak tertahankan lagi. Sewaktu mau pergi tes CPNS BPN di Univ. Ekasakti (UNES) aku diantar oleh kakak ku paginya. Pulangnya, gara2 aku tidak membawa hp, jadi aku tidak bisa menelepon ke rumah. Mau nelpon lewat wartel, duit disaku ku saat itu benar2 pas Rp 2000 hanya untuk ongkos angkot. *miris sekali!!* Mau tidak mau, dengan kondisi badan ku yang lagi ga fit saat itu, aku terpaksa jalan kaki dari kampus Unes ke persimpangan di dekat RS. Selaguri. Perjalanan dengan kaki yang cukup lumayan jauh.

Sesampai dirumah, tidak sampai sejam, setelah mencuci muka dan sebelumnya masih aku sempatkan untuk men-cek email dan mess diMultiply ku, aku, mama dan papa ku, ikut mengantar ku untuk menghadiri tes CPNSD di Kab. Dharmasraya.

Tepat jam 11.30 WIB kami mulai berangkat, dan sekitar jam 4 sore baru tiba di BKD Pulau Punjung Kab. Dharmasraya. Perjalanan yang lumayan cukup jauh dari Padang. Kalau dipikir2, perjalanan ini hampir sama jauhnya antara Padang – Pekanbaru, yang hampir memakan waktu setengah hari perjalanan.

Setiba di BKD, aku melihat dan mengecek dimana lokasi tes CPNSD untuk formasi Analis Hukum. Setelah berbicara dengan tukang ojek yang sedang berdiri sambil menawarkan jasanya dekat situ, aku menanyakan lokasi daerah SMA 1 Koto Baru yang merupakan lokasi tempat aku tes besoknya. Belum sempat aku menanyakan lokasinya dekat mana, si tukang ojek langsung menyanggah bahwa tidak ada ojek yang kesana, dikarenakan jarak BKD yg terletak didaerah Pulau Punjung dengan Koto Baru, jaraknya sekitar 45 km lebih. Wow!! jaraknya hampir sama antara Padang – Pariaman.

Setelah berbincang2, sore itu juga kami langsung menuju lokasi tempat tes ku di SMA 1 Koto Baru. Ternyata ucapan si tukang ojek memang betul. Jaraknya sangat jauh! Dalam perjalanan, kami sempat bertanya2 kepada penduduk setempat, bahwa jarak simpang pasar Koto Baru berapa kilo lagi? Disini, aku benar2 sangat berterima kasih kepada Papa dan Mama ku yang setia bgt menemani aku untuk mengikuti tes ke daerah pelosok ini. Sekitar jam 5, kami baru menemukan lokasi tes yang terletak di SMA 1 Koto Baru.

Setelah mengetahui tempat lokasi tes, kami mencari penginapan untuk bermalam semalam. Tapi alhasil, semua hotel/penginapan dari Koto Baru hingga Gunung Medan, semuanya penuh! Untuk balik ke Pulau Punjung, rasanya tidak mungkin. Karena jarak antara Pualu Punjung dengan lokasi ujian ku yang di Koto Baru lumayan cukup jauh. Mau tidak mau, jadilah aku, papa dan mama ku menjadi gelandangan sehari di Gunung Medan. (lihat saja fotonya! ^_^)

Dibandingkan dengan yang lain, aku harus bersyukur kepada-Nya, karena aku masih punya mobil sebagai tempat untuk beristirahat sejenak sblm mengikuti tes besok. Karena jarak antara Gunung Medan dengan Koto Baru tidak terlalu jauh, malam itu terpaksa mobil ku parkir di Gunung Medan. Awalnya diparkiran Hotel Umega di Gn. Medan, namun karena merasa ga enak, pas adzan Subuh papa memindahkan mobil ke parkiran di RM Umega yang terletak di depannya.

Pagi yang lumayan dingin di Gn. Medan. Disana juga pertama kalinya aku mandi dengan kaum hawa lainnya dalam satu ruangan. Hehehe… memang kondisinya dan tempatnya yang sudah begitu. Tapi untung saja, waktu itu aku tinggal memakai pakaian saja. Jadinya… XXXX (hehehe... aku ga mau ngelanjutinnya!! Hehehe...)

Setelah menyantap mie rebus plus nasi di RM Umega, sekitar jam setengah 8, barulah aku berangkat menuju SMA 1 Koto Baru. *It's time to action!!* Karena malamnya kurang tidur, diperjalanan menuju Koto Baru yang memakan waktu sekitar satu jam, aku sempatkan untuk tidur diatas mobil barang sejenak.

Sekitar jam setengah 9, kami sudah sampai di SMA 1 Koto Baru. Berhubung tes dimulai jam 10, waktu yang tersisa tidak kusia-siakan untuk tidur lagi. (hehehe...) Maklum, udah malamnya kurang tidur, kondisi badan kurang fit ditambah lagi, badan ku terasa sakit2 karena tidur diatas mobil semalaman. 15 menit sebelum ujian di mulai, barulah aku mulai masuk ke lokal. Disana, aku sempat berbincang2 dengan salah satu peserta CPNS yg duduk di depan ku. Ternyata si uni itu udah dua kali ikut CPNS. Kalau dipikir2, ternyata ikut CPNS itu lumayan susah dan untung2-an jg yach!! Ditambah lagi, saat pengawas ujian yang melihat kartu ujian ku menyatakan bahwa aku baru tamat kuliah kemaren ini. Itu artinya, dilokal itu, akulah peserta CPNSD termuda!! Hehehe… ^_^

5 menit sebelum tes selesai, aku sudah keluar. Otak ku benar2 buntu ketika dihadapi dengan soal hitungan yang banyak sekitar 10 soal. Asal jawab saja, entah itu betul atau tidak, semuanya Lillahi ta’ala saja lah! Aku pusing mikirin itu lagi. Terang aja! sudah hampir lebih dari 4 tahun aku tidak menghafal rumus mate-matika, walaupun jurusan ku waktu di SMA dl adalah IPA. Bahkan pelajaran Kimia yang menjadi favorit ku saat itu saja, sekarang sudah mulai lupa akan rumus2 dan nama2 senyawa yg dl biasanya sempat ku hafal di luar kepala.

Kab. Dharmasraya memang betul2 panas. Seharusnya kabupaten itu sejuk. Namun karena disepanjang perjalanan di Kab. Dharmasraya hutannya sudah tidak virgin alias sudah banyak digunduli dan dibakar oleh orang2 yg tak bertanggung jawab, menyebabkan daerah ini terasa pnas dan gersang. Sama halnya sewaktu aku pergi ke Pekanbaru lewat Air Molek beberapa waktu yang lalu. Bau asap kebakaran hutan membuat dada sesak dan kabutnya juga menghambat perjalanan. Makanya, aku turut mendukung orang2 yang setuju dengan program Hijau Indonesia atau program penghijauan lainnya yang sejenis. Go Green Indonesia!! ^_^ (secara, diri ku juga pencinta warna hijau!)

Karena kepanasan, Mama ku seperti bertamasya di lapangan sekolah SMA 1 Koto Baru. Sayang bgt, aku ga bisa ambil fotonya. Soalnya battery hp ku kala itu udah benar2 parah. Aku cuman bs ketawa melihat tingkah Mama ku. Gmn ga! Dari sekian banyak orang tua yang nungguin anaknya selesai tes, cuman Mama ku yang membentang tikar dibawah pohon, dilapangan SMA 1 Koto Baru. Hehehehe… tapi, gpplah!! Mereka sudah sgt berjasa dan setia pada ku. Keadaan yang membuat begitu, harus gmn lagi!?

Sekitar pukul 2 siang, kami kembali menuju kota Padang. Sebelumnya, kami sempat makan siang di RM sblm Gn. Medan. (aku lupa nama RM-nya) Disana, aku sempat kesel sama anak kecil yang seenaknya saja memakai sepatu plastik ku, saat ku taruh diluar. Soalnya waktu itu makannya bergaya lesehan. Pas aku mau ke mobil buat ngambil kerupuk, aku malah kebingungan mencari dimana sepatu ku. Ternyata dia meletakkannya di bawah pohon yg tak jauh dari tempat aku meletakkan sepatu pada awalnya. Alhasil, kaus ku yang putih jadi kotor karena menginjak tanah untuk mengambil sepatu yang ditaruhnya dibawah pohon. Dasar anak2!! Bikin aku tambah kesel ajah!! ;(

Alhamdulillah, pukul 7 Maghrib kami sampai dirumah. Pengalaman berkesan itu entah harus menjadi apa dalam diri ku. Rasa sesal, rasanya harus dan kudu dihilangkan. Bagiku, semuanya tergantung nasib dan takdir. Jika Allah mentakdirkan aku lulus diantara 300 orang pelamar CPNSD Kab. Dharmasraya utk formasi Analis Hukum, itu Alhamdulillah. Jika tidak, mungkin itu memang belum takdir ku.

Sekarang, aku hanya bisa ambil hikmah dari semua kejadian ini saja. Anggap saja tes tsbt adalah jalan2 pertama ku ke Kab. Dharmasraya, walapun sblmnya pernah ke sana, tapi itu dulu, sewaktu diri ku masih berstatus anak SMP. Hikmahnya, aku bisa melihat betapa telah buruknya hutan dipedalaman Sumatera yang telah dihancurkan oleh orang2 yg tidak bertanggung jawab.

Mungkin segitu saja catatan laporan ke Dharmasraya kali ini. Hehehe… aku berbakat jadi seorang reporter ga ya?? Rencananya, kalau bisa, nanti aku ingin sekali keliling Sumbar dengan membawa kamera, kemudian mempublikasikan budaya Sumbar lewat multiply ku. Tujuannya, agar banyak orang diluar sana yang tertarik dan mengenal Sumbar dan budayanya!! *I think, it’s a good idea!!* hehehe… tengkyu!! ^_^

Dah dl y…

Ini adalah postingan terpanjang ku, slm bbrpa bulan ini. ^_^

Wslm.