6 Pertanyaan Utama

1. Apa yang paling dekat dengan diri kita di dunia?
2. Apa yang paling jauh dari kita di dunia?
3. Apa yang paling besar di dunia?
4. Apa yang paling berat di dunia?
5. Apa yang paling ringan di dunia?
6. Apa yang paling tajam di dunia?

Apa Yang Paling Dekat ?
Murid2 menjawab: "Ayah bunda, guru dan sahabat,” Imam Ghozali: “Semua jawaban benar, tetapi yang paling dekat dengan kita adalah Mati.” Allah swt: “Setiap yang bernyawa pasti akan mati.” (QS. Ali Imran [3]:185).

Apa Yang Paling Jauh ?
Murid2 menjawab: “Negeri Cina, matahari, planet dan bintang2.” Imam Ghozali: “Semua jawaban benar, tetapi yang paling jauh adalah Masa Lalu. Walau dengan cara apapun kita tidak dapat kembali ke masa lalu. Itulah sebabnya kita harus menjaga hari ini dan hari2 mendatang dengan perbuatan yang dikehendaki Allah swt.

Apa Yang Paling Besar ?
Murid2 menjawab: “Gunung, bumi dan matahari.” Imam Ghozali: ”Semua jawaban benar, tetapi yang paling besar adalah Hawa Nafsu (Al ‘Araf [7]:179). Itulah sebab-nya kita harus berhati2, jangan sampai hawa nafsu membawa kita ke neraka.

Apa Yang Paling Berat ?
Murid2 menjawab: “Besi dan gajah.” Imam Ghozali: “Semua jawaban benar, tetapi yang paling berat adalah Amanah (Al Ahzab [33]:72). Tumbuh2an, binatang, gunung, dan malaikat semua tidak mampu ketika Allah swt meminta mereka untuk menjadi khalifah (pemimpin) di dunia ini. Tetapi manusia dengan sombongnya menyanggupi permintaan Allah swt, sehingga banyak manusia masuk ke dalam neraka karena ia tidak dapat memegang amanahnya.

Apa Yang Paling Ringan ?
Murid2 menjawab: “Kapas, angin, debu dan daun2an.” Imam Ghozali: “Semua jawaban benar, tetapi yang paling ringan di dunia ini adalah Meninggalkan Shalat. Akibat sibuk dengan aktifitas pekerjaan, maka kita begitu ringan meninggalkan shalat.

Apakah yang paling tajam ?
Murid2 menjawab: “Pedang.” Imam Ghozali: “Semua jawaban benar, tetapi yang paling tajam adalah Lidah Manusia. Dengan lidahnya, manusia selalu melukai hati dan menyakiti perasaan saudaranya sendiri.


Wslm.

Dua Kebahagiaan

Semua manusia pasti merindukan kebahagiaan. Apapun yang dilakukan manusia pasti berujung pada mencapai kebahagiaan. Bahkan dalam doa-doanya setiap saat ingin mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat. Beragam orang dalam menerjemahkan kebahagiaan, ada yang menggambarkan kebahagiaan dalam bentuk materi, memiliki rumah yang besar dan luas, kendaraan yang mewah, pakaian yang mahal, harta yang berlimpah. Sedih dan kecewa ketika barang-barang tersebut tidak didapatkannya.

Ada yang menggambarkannya dengan segala sesuatu yang dapat memuaskan batinnya, seperti ketika mendapatkan pujian, penghargaan dan sedih, kecewa dan sakit hati ketika tidak mendapatkan pujian dan penghargaan atas yang telah dilakukannya. Dan berbagai macam orang yang mencoba menerjemahkannya.

Bagi orang yang berpuasa, kebahagiaan memiliki makna tersendiri, Rasulullah SAW bersabda : "Dan bagi yang berpuasa akan mendapatkan dua kebahagiaan, yang pertama kebahagiaan ketika berbuka puasa dan kedua kebahagiaan ketika berjumpa dengan Rabbnya." (Muttafaq'alaih).

- Ketika Berbuka Puasa.
Nikmatnya makan adalah ketika perut dalam keadaan lapar dan nikmatnya minum ketika rasa haus dahaga membuat kering tenggorokan, alangkah bahagianya mereka yang makan dan minum setelah mereka dalam keadaan lapar dan haus. Bahkan bagi yang berpuasa, mereka diperintahkan untuk menyegerakan waktu berbuka dan dilarang untuk menunda waktu berbuka, apalagi berpuasa tanpa berbuka.

Sungguh Allah SWT Maha Penyayang terhadap hamba-Nya, tidak ada satupun syariat yang diturunkan kecuali untuk kemasalahatan manusia. Di dalam ibadah Shaum dan puasa, Allah melarang umat Islam untuk makan, minum, dan menahan nafsu. Dan atas kasih sayang dari Allah SWT, bagi yang berpuasa diperintahkan untuk menyegerakan berbuka dan mengakhirkan sahur.

- Berjumpa dengan Allah.

Kebahagiaan kedua bagi yang berpuasa adalah berjumpa dengan Allah SWT. "...wajah-wajah orang mukmin pada hari itu berseri-seri. Memandang Tuhannya." (76:22-23). Ibnu Rajab berkata : "Bagi orang yang berpuasa, maka ia akan mendapat balasan yang besar atas puasanya dengan berjumpa dengan Allah SWT." "...kebahagiaan apa saja yang kami perbuat untuk diri mu, niscaya kamu memperoleh (balasannya) disisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan paling besar pahalanya...." (74:20).

Maka, beruntunglah bagi siapa saja yang berpuasa karena mengharapkan keridhoan-Nya dan rugilah bagi siapa saja yang kehilangan kesempatan emasnya.


Wslm.