Ya Allah, bagi ku sosok Kak Laisa adalah wanita yang benar-benar tegar dalam menjalani kehidupannya. Dia pernah diejek oleh adiknya yang nakal, ditolak secara kasar saat dia di jodohkan oleh Wak Burhan dan adiknya Dalimunte, pernah merasakan sakit hati, diejek oleh petugas sekolah Yashinta karena antara Kak Laisa dan Yashinta tidak mirip. Namun itu semua ditanggapi dengan lapang dada, ikhlas dan sabar.
Satu hal yang paling membuat ku takjub melihat tokoh Kak Laisa adalah, dia tidak pernah mengeluh terhadap sesuatu. Baik sesuatu itu adalah sesuatu yang menjelekkannya. Dibandingkan dengan ku, meski memiliki kesamaan fisik yg hampir sama dengan Kak Laisa, jujur, terkadang aku juga suka mengeluh. Baik itu kepada Allah maupun kepada orang tua ku.
Halaman 233 & 234 (pada saat awal Kak Laisa mulai dijodohkan oleh adik pertamanya):
“Tapi maksud ku, setidaknya cantik adalah menarik hati” Dalimunte sudah terlanjur membanting pintu mobil. Dia tidak membenci kenalannya tersebut secara personal. Tapi Dalimunte lebih membenci kenyataan bahwa: terkadang betapa munafiknya manusia dalam urusan ini. Lihatlah, kenapa pula temannya tersebut mesti berpura-pura ada jadwal acara mendadak, ceramah dimanalah hari ini. Dalimunte membenci ukuran-ukuran relatif yang ada di kepala orang ketika mencari jodoh. Sungguh jika ada yang ingin menilai secara objektif, Kak Laisa masuk tiga dari empat kriteria utama yang disebutkan Nabi dalam memilih jodoh.
Jelas Kak Laisa salehah. Saleh dalam hubungan dengan Allah, juga saleh dalam hubungan dengan manusia. Kak Laisa selalu pandai mensyukuri nikmat Allah dalam bentuk yang lengkap. Ritus ibadah yang baik dan ikhlas, juga kesalehan sosial memperbaiki kehidupan lembah.
Dari sisi materi? Jelas Kak Laisa lebih baik dari gadis lain. Perkebunan strawberry Kak Laisa membentang nyaris dua ribu hektar. Meski Kak Laisa selalu bilang itu perkebunan Mamak, semua orang tahu, semuanya berkat kerja keras Kak Laisa.
Dan dari sisi keturunan, Kak Laisa memang bukan turunan raja atau bangsawan ternama, tapi keluarga mereka terhormat, pekerja keras, tidak pernah meminta-minta, berdusta, atau melakukan hal buruk lainnya. Sejak dulu Babak mengajarkan tentang harga diri keluarga, mengajarkan tentang menjaga nama baik keluarga lebih penting dibandingkan soal kalian keturunan siapa. Menjadi keluarga yang jujur mesti keadaan sulit. Berbuat baik dengan tetangga sekitar, dan sebagainya.
Jadi kenapa harus mempersoalkan kecantikan? Bukankah itu hanya ada diurutan ke empat?
“Keluarga yang baik hanya dapat terjadi ketika suami merasa senang menatap istrinya, Dali. Merasa tenteram –“ Kak Laisa berkata pelan, menatap gumpalan awan tipis yang menutupi bintang-gemintang dan purnama.
Dalimunte hanya diam. Seperti biasa, mereka menghabiskan sepertiga malam terakhir dengan berdiri dilereng perkebunan strawberry. Kak Laisa tidak banyak berkomentar atas kejadian semalam dan tadi pagi. Seperti biasa, menganggapnya kejadian lazim berikut. Bukankah selama ini perjodohan yang dilakukan Wak Burhan bernasib sama. Yang dijodohkan mundur teratur setelah melihatnya (satu-dua malah kasar segera pergi dari rumah. Dalimunte saja yang terlalu naif berharap banyak atas kenalannya tersebut, tidak proporsional, tertipu tampilan mulut. Kesalehan mulut.
“Kau tahu, jika suami merasa tersiksa melihat wajah dan fisik istrinya, dan juga sebaliknya, mereka tidak akan pernah menjadi keluarga yang baik. Bukankah kau juga tahu kisah tentang sahabat Nabi, yang meminta bercerai karena fisik dan wajah pasangannya tidak menenteramkan hatinya –“ Kak Laisa tetap berkata ringan.
Saat itu tidak ada yang tahu, kalau bertahun-tahun terakhir Yashinta amat membenci kelakuan teman lelakinya yang sibuk mencari perhatian. Apakah mereka akan tetap sibuk mencari perhatian jika wajah dan fisiknya seperti Kak Laisa? Omong-kosong. Mereka tidak benar-benar menyukai dirinya. Menyukai apa-adanya. Mereka hanya menyukai tampilan fisik dan wajah. Seperti seekor rubah yang tertarik pasangannya karena bau tubuhnya. Maka hewan-lah sejatinya perangai mereka.
Halaman 288 (doa yang paling disukai Kak Laisa):
....Dengan muka masih pucat. Dengan tubuh masih lemah. Menggunakan sisa-sisa tenaganya. Berseru lirih disenyapnya mobil membelah jalanan menuju perkebunan, “Ya Allah, aku mohon, meski hamba begitu jauh dari wanita-wanita mulia pilihanmu, hamba mohon kokohkanlah kaki Laisa seperti kaki Bunda Hajra (Siti Hajar) saat berlarian dari Safa-Marwa.... Kuatkanlah kaki Laisa seperi kaki Bunda Hajra demi anaknya Ismail.... Mereka tidak boleh melihat aku sakit....” Satu titik air-mata mengalir di pipinya. Itu juga doa Laisa ketika menerobos hujan badai saat Yashinta sakit, ke kampung atas, ketika kakinya bengkak menghantam tunggul kayu. Ketika sendi mata kakinya bergeser. Itu juga doanya saat di Gunung Kendeng. Itulah doa yang paling disukai Laisa. Doa-doa itu mengukir langit.
Yang menceritakan bahwa Kak Laisa kembali dijodohkan oleh adiknya. Tapi hasilnya sama saja. Perjodohan yang gagal lagi.
Dengan berita kanker paru-paru stadium satu yang ia tutup rapat-rapat, kecuali dengan Mamak, maka benar-benar tidak ada yang tahu apa yang selalu Laisa pikirkan saat menatap langit penghujung malam. Menatap bulan dan gemintang di Lembah Lahambay. Apakah memang sesederhana yang selalu ia sampaikan kepada Dalimunte: Ia sudah terbiasa dengan kesendiriannya.
Kemudian pada saat seorang warga baru dilembahnya mulai tertarik pada Laisa, namun pada akhirnya ternyata warga baru tersebut adalah buronan polisi. Ia hanya menginginkan harta Laisa. Ia seperti sudah mengubur dalam-dalam keinginan untuk menikah. Melupakannya. Kak Laisa seolah sudah bersiap menerima kalau ia memang ditakdirkan hidup sendirian selamanya. Mungkin saja Kak Laisa sudah benar-benar terbiasa.
Halaman 296:
Lembut jemari Yashinta mengusap wajah Kak Laisa. Rambut gimbalnya. Wajah dengan kulit hitam. Hidung pesek. Mulut Kak Laisa yang sedikit terbuka, memperlihatkan gigi-gigi besar, tidak proporsional. Yashinta menelan ludah. Membandingkan wajah itu dengan wajahnya melalui cermin peraut pensil. Kak Laisa sungguh beda.... Tapi bagaimana mungkin Kak Laisa bukan kakaknya?
Apapun jawabannya, Kak Laisa tetap menjadi kakaknya.
Halaman 337 & 338:
Pagi itu, saat kabut masih mengambang diatas hamparan merah ranum buah strawberry, Mamak bercerita tentang: bidadari-bidadari surga. Melanjutkan cerita Laisa ke anak-anak sebulan yang lalu. Andaikata disini ada Yashinta, ia akan senang sekali, itu cerita favoritnya waktu kecil.
“Dan sungguh di surga ada bidadari-bidadari bermata jeli (Al Waqiah: 22). Pelupuk mata bidadari-bidadari itu selalu berkedip-kedip bagaikan sayap burung indah. Mereka baik lagi jelita. (Ar Rahman: 70)."
Andaikata ada seorang wanita penghuni surga mengintip ke bumi, niscaya dia menerangi ruang antara bumi dan langit. Dan niscaya aromanya memenuhi ruangan antara keduanya. Dan sesungguhnya kerudung diatas kepalanya lebih baik daripada dunia seisinya (Hadits Al Bukhari).
Suara Mamak berkata lembut terngiang ditelinganya: bidadari-bidadari surga, seolah-olah adalah telur yang tersimpan dengan baik (Ash-Shaffat: 49)....
Kak Laisa jatuh tertidur, dengan sungging senyum dan satu kalimat doa: Ya Allah, jadikan Lais salah satu bidadari-bidadari surga.... (setelah membaca bagian yg ini, aku juga ingin menjadi bidadari-bidadari surga. tapi itu pasti susah sekali, karena sifat ku tidak seperti Kak Laisa. T_T)
....Urusan mereka (Yashinta dan Goughsky) sama seperti Dalimunte dan Chie Hui, atau Ikanuri-Wibisana dengan Wulan-Jasmine. Mereka tidak saling mengungkapkan perasaan secara langsung. Tapi bukankah perasaan itu tidak selalu harus dikatakan? Cara menatap, cara bertutur sungguh cermin dari isi hati. Lagipula sama seperti kakak-kakaknya, Yashinta tidak mengenal proses pacaran. Mereka tahu batas-batasnya. (same with me! ^_^)
“Tidak ada yang tahu kapan Kakak akan menikah, Yash. Tidak ada yang tahu.... Bahkan mungkin Kakak ditakdirkan tidak akan pernah menikah.... Kau harusnya tahu persis itu.” Suara Kak Laisa serak. Menatap wajah adiknya lamat-lamat. Adiknya yang sekarang mulai terisak. (saat membaca bagian yg ini, aku juga ikutan terharu! T_T)
Membuat Kak Laisa tertunduk dalam. Menggigit bibir, pelan mendesah ke langit-langit, “Ya Allah, setelah Dalimunte, Ikanuri dan Wibisana, apa aku harus selalu menanggung penjelasan ini kepada mereka.... Ya Allah, apa aku harus selalu menjadi penghalang pernikahan adik-adikku.... Lais sungguh ikhlas dengan semua keterbatasan ini, Ya Allah. Sungguh.... Biarlah seluruh bukit dan seisinya menjadi saksi, Lais sungguh ikhlas dengan segala takdirMu.... Tapi setiap kali harus mengalami ini, menjadi penghalang kebahagiaan mereka....” Suara Kak Laisa menghilang diujugnya. Getir.
Dan Yashinta seketika menangis tertahan. Memeluk Kak Laisa erat-erat. Untuk pertama kalinya, kalimat seperti itu meluncur dari mulut Kak Laisa. Kalimat penjelasan. Sepenuh hatinya. Semua ini memang benar-benar sederhana baginya. Kesendirian. Rasa sepi. Kerinduan. Semua itu benar-benar sederhana baginya. Ia merasa cukup dengan segalanya.... Lihatlah, malam itu ia justru hanya mengeluh telah menjadi penghalang jalan kebaikan adik-adiknya.... (Kak Laisa yang tak pernah mengeluh akan nasib dan takdir hidupnya, hanya sekali mengeluh demi masalah tersebut. Subhanallah!)
*koq diketik semuanya?* karena novel ini aku pinjam, kalau dikembalikan mana bisa baca lagi! Hehehe…
Sungguh besar sekali pengorbanan seorang Kak Laisa terhadap adik-adiknya. Ditambah lagi dia bukanlah kakak kandung mereka, tapi Kak Laisa tidak pernah mempedulikan itu. Yang penting baginya, adik-adiknya harus bisa lebih dari kakaknya. Subhanallah.
Aku, walapun tidak memiliki adik. Contoh teladan dari Kak Laisa adalah yang terbaik dan harus aku pahami (ikuti). Terkadang aku juga suka benci, muak, dan jarang bersyukur atas hidup ku ini. Dan Alhamdulillah, setelah membaca novel ini, Insya Allah aku akan mengubah segalanya. Mengubah pola pikir ku. Belajar untuk lebih besyukur kepada Sang Pencipta atas segalanya dan atas nikmat hidup ku yg diberikan olehNya. Belajar menjadi seorang wanita shaleh. Belajar untuk ikhlas dan menerima apa adanya. Belajar untuk menjadi orang yang tidak cepat emosi (ini yg lumayan susah!). Belajar untuk menjadi seorang wanita yang penyabar, penyayang, pemaaf, tidak pendendam. Belajar untuk tidak terus-terusan mengeluh (ini juga lumayan susah!). Dan belajar untuk menjadi seperti Kak Laisa yang suka bekerja keras dan berdoa.
Maafkan aku Ya ALLAH, itu hanya pikiran yang keluar dari otak ku yang masih kerdil ini. Otak yang tidak memiliki pengetahuan seperti Engkau Ya Allah. Sekali lagi, maafkan aku!
Wslm.
