Tetangga Yang Tak Toleran

Emg sebel plus kesel kalau punya tetangga yang tak punya rasa toleransi sedikit pun. Belum selesai perkara kamar mandi yang dibangunnya sekitar beberapa tahun yang lalu, yang tepat bersebelahan dengan kamar tidur ku dan hanya dipisahkan dengan tembok setinggi 2 meter dan gang yang berjarak skitar setengah meter, sekarang tetangga sebelah rumah ku memasang atap ditempat yang sama. Alhasil, sinar matahari yang biasanya masuk ke kamar kakak ku sekarang sudah tidak bisa lagi ku lihat. Padahal dampak dari kamar mandi itu banyak negatifnya. Mau tidak mau, hampir tiap pagi hidung ku mesti peka dengan bau-bau tak sedap yang datang setiap pagi dari WC tersebut. Kalau udah gn, gmn cara aku mau buka kamar jendela di waktu pagi?

Selain itu, tujuan ku pindah dari kamar lama ku ke kamar kakak ku sekarang adalah karena cahaya sinar matahari yang didapat dari kamar kakak ku lebih banyak dari kamar ku yang dulu. Jadi, bisa ganti udara setiap pagi.

Kalau sudah begini, jangankan sinar matahari yang bisa ku dapat setiap aku bangun tidur, untuk melihat bintang dari jendela kamar kakak ku sambil tiduran saja, sekarang sudah ga bisa lagi, lantaran langitnya ditutup dengan atap seng yang dipasangnya sekitar dua hari yang lalu.

Lapor ke mama, jawabannya adalah SABAR. Yach, mau tidak mau aku mesti sabar lagi! Intinya, kita harus mengalah. Kalau orang itu tidak mau mengalah, kitalah yang mesti mengalah. Kalau ga, hubungan antar tetangga bisa berantem m’lulu! *yups! Bener banget!* Kalau dipikir-pikir, sepanjang thn kemaren kayaknya aku udah banyak bgt bersabar. Tapi kok hasilnya gn?

Yayayaaa... Tapi, masa mesti sabar lagi? Mentang-mentang rumahnya besar dan bertingkat, apa dia bisa seenaknya? Jangan gt donk! Mau ga mau, kita hidup kan bertetangga, jadi mesti toleran dikit sama yang disebelah juga donk!

Tidak hanya itu, beberapa minggu yang lalu, karena tetangga sebelah juga punya bengkel, masa kegiatan perbengkelannya dilakukan sampai malam hari? Ribut! Itu sama aja dengan mengganggu ketenangan orang buat beristirahat di malam hari. Tapi sekali lagi, kuncinya adalah SABAR.

Untung saja saat ini oma ku sudah ga ada. Kalau beliau masih ada, pasti beliau marah seperti kejadian bengkel motor yang buka didepan rumah sampai malam, sekitar 8 tahun yang lalu.

Sekali lagi, sabar adalah kunci dari segala masalah. Pengen nuntut, takut hubungan yang harmonis berubah jadi benci. Mau ga mau, mending diam aja, liatin aja, biarin aja, dan coba untuk sabar menghadapinya. Yach, sabar for forever!


Wslm.